Masjid Kalenderhane dan Saksi Bisu dari Transisi Peradaban

Dari sekian banyak masjid dan bangunan bersejarah yang tersebar luas di kawasan istanbul, saya tertarik untuk mengulas sejarah dan karya seni yang dihadirkan dari sebuah masjid tua ditengah kota, tepat di kawasan vezneciler jalan menuju suleymaniye cami, dan disekitaran tebing bozdogan kemeri. Masjid yang dikenal dengan nama Kalenderhane camii ini menyuguhkan kepada saya sebuah pemandangan yang sangat klasik dan arsitekturnya yang terlihat sangat berbeda dibanding masjid  masjid besar yang terletak di sekitaran kawasan fatih, bentuk bangunannya yang terlihat begitu jelas dengan warna coklat kemerahan dan berbentuk layaknya gereja ini menjadikan saya untuk meneliti lebih dalam lagi bagaimana sejarah awal mula dibentuknya masjid ini.

Dari papan keterangan yang saya baca, yang terletak tepat di depan masjid ini, disebutkan bahwa masjid ini adalah bangunan yang berasal dari priode romawi timur, yang pada awalnya merupakan sebuah Gereja Ortodoks Timur, tetapi kemudian diubah  menjadi masjid oleh kesultanan Usmaniyyah pada abad ke-18. Mungkin agar lebih enak untuk memahami secara mendalam tentang arsitektur yang ada pada masjid kalenderhane camii ini, kita mulai dari bentuk dasar atau struktur bangunan yang tersisa sebagaimana yang kita lihat saat ini.

Lengkungan Salib Yunani yaitu arsitektur yang merupakan bukti kecil bahwa bangunan ini berasal dan dibangun pada masa Romawi timur, juga menjadi sebuah ciri khas dari bangunan gereja pada zaman itu. Secara mudah nya bentuk dari lengkungan salib yunani itu adalah sebagai berikut:

1. Kubu atap nya yang berbentuk trowongan (Barrel Vaults/Besik Tonoz): jika kita melihat bentuk masjid ini dari luar, kita akan melihat tepat dibawah kubah utama masjid terdapat empat lengkungan besar yang memanjang ke empat arah mata angin yaitu utara, selatan, timur dan barat. Nah lengkungan-lengkungan inilah yang berbentuk terowongan silinder dan menjadi penopang utama kubah besarnya. Dan kita dapat merasakan dan melihat langsung secara jelas saat berdiri di tengah ruangan dalam masjid, pertemuan antara empat lorong lengkung ini membentuk formasi salib yunani yang sempurna, sebagaimana yang terlihat pada foto foto yang saya ambil di tempatnya langsung:

2. Empat pilar utama (Massive Piers) dan kemer kubah: kemudian ketika kita masuk kebagian dalam masjid, kita disuguhkan empat tiang dinding/pilar sudut yang sangat besar, dan di atas empat pilar ini, terdapat empat lengkungan struktural besar yang saling bersilang dan lengkungan inilah yang membentuk dasar lingkaran (kasnak) untuk menopang kubah utama bersusuk 16 di bagian tengahnya, sebagaimana yang dapat dilihat dari foto yang saya ambil berikut:

3. Lengkungan Tiga jendela (Triple Arches): dan ini adalah bagian terakhir yang menjadi ciri khas dari bangunan gereja pada masa romawi timur, yang pada bentuk bangunan masjid saat ini, kita dapat melihatnya melalui sisi utara dan selatan masjid, dimana struktur aslinya memiliki lorong samping (aisles) yang terhubung ke ruang utama melalui lengkungan tiga tingkat. Dan meskipun lorong sampingnya sudah runtuh pada abad ke-19, sisa lengkungan tersebut kini diubah fungsinya menjadi bingkai jendela jendela bawah masjid yang estetis, sebagaimana foto foto yang saya ambil berikut:

Setelah mengetahui secara mendalam dari bentuk dan arsitekturnya, kita akan membahas sedikit perpindahan atau alihfungsi bangunan ini yang dulunya sebuah gereja menjadi masjid seperti saat ini. Tepat setelah penaklukan Istanbul pada tahun 1453 M, Sultan Mehmed 2 (Al-Fatih) menyerahkan bangunan bekas gereja bizantium ini kepada para dervish dari tarikat Kalenderi. Dan proses pemakaian serta peralihan fungsinya terbagi menjadi beberapa tahap sejarah yang menarik untuk kita ketahui bersama, diantara nya adalah:

1. Difungsikan sebagai Zaviye tahun 1453: sebagaimana yang saya sebutkan sebelumnya, bahwa tepat setelah penaklukan kota istanbul oleh sultan mehmet, beliau menetapkan bangunan ini sebagai Zaviye atau tekke yaitu tempat berkumpulnya para darwis dan juga untuk menginap bagi mereka, dan karena bangunan ini diberikan kepada para pengikut tarikat kalenderi, masyarakat pada akhirnya menyebut bangunan ini dengan istilah “Kalenderhane” . dan pada masa awal pengalihan fungsi ini, bagian ruang utama dijadikan tempat untuk berzikir bagi para penganut tarikat, dan belum menjadi sepenuhnya masjid secara formal.

2. Resmi menjadi masjid pada abad ke-18: meskipun bangunan ini dijadikan pusat tempat ibadah sejak awal penaklukan, bangunan ini baru resmi diubah dan direnovasi secara total menjadi masjid lengkap beserta struktur penunjangnya pada tahun 1746-1747, dan sebagaimana yang tertulis pada papan keterangan yang terletak di depan masjid ini, transformasi penting bangunan ini dilakukan oleh Haci Besir Aga yang kala itu menjabat sebagai Darussaade agasi atau pengawas istana, nah ada hal menarik yang tak kalah menjadi perhatian adalah adanya Kitabe dengan menggunakan bahasa osmanlica yang dipasang di ruangan tepat sebelah pintu masuk masjid, dengan tujuan memperingati peresmian besar ini serta bukti sejarah bahwa Besir Aga adalah tokoh yang bertanggung jawah atas perbaikan masjid tersebut, berikut adalah foto nya:


Dari foto yang saya ambil ini, mencakup di dalam nya tulisan yang berisikan: 6 satır – 2 sütun

1 Hazret-i sultân Mahmûd-ı mekârim-pervere

Hak Beşir Ağa gibi bir bende iʻtâ eyledi

2 Yaʻni kim dârüssaâde mesned-i vâlâsını

Edeli teşrîf lutfu cûd-ı dil ihyâ eyledi

3 İşte ez-cümle harâba meylini bu câmi’in

Gûş edip evvel-keyd pâkize inşâ eyledi

4 Oldu el-hak öyle âbâdân ki hayrânı değil

Onda bir secde kılan der hayr-ı vâlâ eyledi

5 Cevherin sarf eyleyip Ni’met-i dua-gû dahi

Böyle beyt-i pâk ile târîhin imlâ eyledi

6 “Nâzır-ı Beytü’l-harem Beşîr Ağa ihlâs ile”

“Bu muallâ ma’bedi tecdîd ü ihyâ eyledi”

H. 1160.

Dan alasan dibalik Fatih Sultan Mehmet memberikan tanggung jawab bangunan ini kepada para darwis dari pengikut tarikat kalenderi adalah karena para darwis dan ordo sufi lainnya ikut serta dalam mendampingi pasukan kesultanan ustmaniyyah selama pengepungan Konstantinopel untuk memberikan dukungan moral dan spiritual. Sebagai bentuk penghargaan atas jasa dan keberanian mereka dalam masa penaklukan, Sultan Mehmet menghadiahkan kompleks bangunan ini sebagai markas mereka di ibu kota yang baru.

Ketika kita semua mengetahui latar belakang serta sejarah yang mendalam dari sebuah bangunan yang terlihat sederhana, disana kita dapat menemukan nilai tersendiri dalam merasakan dan menikmati keindahannya, bukan hanya karena seni dan arsitekturnya saja yang memukau akan tetapi sejarah panjang dibalik bangunan tersebutlah yang mengubah cara berpikir kita untuk terus mensyukuri apa yang dapat kita lihat dan nikmati pada saat ini.

Salah satu yang menjadikan saya memilih bangunan ini sebagai bahan pengamatan adalah juga karena sejarah dibaliknya, dimana kesucian dan keagungan sebuah tempat ibadah yang begitu sederhana dapat dilanjutkan dan diteruskan kepada generasi yang baru, serta sikap mengubah suatu tempat ibadah dari agama yang berbeda menjadi tempat ibadah untuk agama yang baru adalah sebuah kehormatan yang luar biasa yang ditunjukkan oleh para ulama kita, mereka lebih memilih untuk mengalih fungsikan bangunan tersebut dari pada harus menghancurkannya, karena sesungguhnya jika seseorang telah meninggal dunia, maka terputuslah seluruh amalannya, kecuali tiga perkara, salah satunya adalah sedekah jariyah, seperti halnya memilih untuk mengubah bangunan ini menjadi sebuah masjid seperti saat ini. 

Komentar

Popular Posts

Makam Para Sahabat Nabi di Istanbul: Antara Sejarah, Spiritualitas, dan Simbolisme

Menginjak Umur ke 21, Apa Arti Usiamu?

Perjalanan Timnas Indonesia dalam Kualifikasi Piala Dunia FIFA 2026 (Zona Asia)