Makam Para Sahabat Nabi di Istanbul: Antara Sejarah, Spiritualitas, dan Simbolisme

Istanbul, kota yang kita kenal dahulu bernama Konstantinopel, merupakan pusat penting dalam sejarah Islam pasca penaklukan oleh Sultan Mehmed II pada tahun 1453 M. Seiring dengan penaklukan ini, muncul pula berbagai tradisi penghormatan terhadap tokoh-tokoh Islam terdahulu, termasuk para Sahabat Nabi Muhammad SAW. Banyak sekali tempat dan kawasan yang diyakini oleh para masyarakat setempat bahwa itu merupakan “makam” para Sahabat Nabi, yang akhirnya menyebabkan adanya kritik akademik dan munculnya metode verifikasi ilmiah antar para peneliti. Sehingga, berdasarkan kajian sejarah dan arkeologi, sebagian besar dari makam ini bukanlah makam asli, melainkan cenotaph atau makam simbolik.

Bagi kita yang kurang mengetahui sejarah secara mendalam, akan merasa bingung dengan adanya tempat yang diyakini oleh masyarakat setempat sebagai makam Sahabat Nabi, yang mana sebenarnya makam para Sahabat tersebut terletak di tempat dan kawasan lain. Ada beberapa alasan yang menyebabkan Kesultanan Utsmani pada masa awal penaklukan Konstantinopel mengambil peran dalam membuat dan menjadikan sebuah tempat sebagai makam simbolik atau cenotaph untuk para Sahabat Nabi. Berawal dari penentuan lokasi makam simbolik (cenotaph) yang tidak jarang dipengaruhi oleh pengalaman spiritual atau mimpi para sufi dan dervish, terutama dari kalangan tarekat sufi yang memiliki pengaruh besar dalam masyarakat dan pemerintahan Utsmani. Hal ini bukan hal aneh dalam konteks budaya religius dan spiritual saat itu. Karena pada zaman kesultanan pengaruh tarekat seperti Naqsyabandiyah, Maulawiyah, Qadiriyah dan lainnya memiliki pengaruh kuat di istana, sehingga banyak makam atau tugu suci (türbe) yang lokasinya dipilih berdasarkan kisah spiritual atau mimpi para sufi dan dervish.

Salah satu contohnya adalah makam Abu Ayyub al-Anshari yang ditemukan kembali oleh Syekh Akşemseddin (guru spiritual Sultan Mehmed II) melalui ilham spiritual, yang kemudian dikukuhkan oleh Sultan sebagai tanda kehormatan, begitu juga beberapa makam sahabat lain, seperti Abu Darda’, Amr bin Ash, atau Sufyan bin Uyaynah di Yeraltı Camii, juga diyakini dibangun berdasarkan keyakinan spiritual yang disampaikan oleh para sufi lokal.  

Dari peran dan keputusan yang diambil oleh otoritas Utsmani terhadap pembuatan makam simbolik atau cenotaph (makam kosong) tersebut, bagi kalangan awam pasti timbul pertanyaan kenapa harus dibuat makam seperti itu dan apa alasan kuat bagi Kesultanan Utsmani dalam hal tersebut, yang mana bukankah kebijakan dalam hal ini dapat menyebabkan kekeliruan dikalangan orang awam terhadap fakta yang ada. Dan benar bahwa membuat makam simbolik memang berpotensi menimbulkan kekeliruan, terutama di kalangan awam. Namun, dari sudut pandang politik, spiritual, dan sosial-budaya pada masa Kesultanan Utsmani, ada alasan strategis yang kuat di balik pembangunan makam-makam simbolik itu.

Beberapa alasan utama, diantaranya adalah menguatkan legitimasi Islam atas wilayah baru, setiap kali wilayah baru ditaklukkan (seperti Konstantinopel/Istanbul), kehadiran makam Sahabat atau tokoh Islam (walaupun hanya simbolik) dianggap memberi “legitimasi spiritual” bahwa wilayah itu sudah dalam naungan Islam sejak awal, ini membantu meyakinkan umat bahwa tanah itu diberkahi dan bagian dari warisan Islam. Kemudian juga sebagai fungsi sosial seperti ziarah dan spiritualitas, tempat-tempat seperti ini juga menjadi lokasi ziarah dan refleksi spiritual, dimasa itu, ziarah ke makam orang saleh dianggap sebagai sarana memperkuat iman dan mendapatkan keberkahan (tabarruk) seperti halnya terjadi dikalangan masyarakat Indonesia saat ini, Otoritas Utsmani mengelola ini secara terpusat, jadi bukan bentuk bid‘ah liar, melainkan bagian dari strategi kultural mereka.

Berikut adalah daftar makam para Sahabat Nabi yang terdapat di Istanbul, dilengkapi dengan klarifikasi sejarah mengenai keasliannya:

1. Abu Ayyub al-Anshari (Halid bin Zayd al-Anshari)

  • Lokasi: Eyüp Sultan Camii, Eyüp, Istanbul
  • Status: Makam Asli (diyakini kuat secara historis)
  • Keterangan: Beliau wafat saat pengepungan Konstantinopel oleh pasukan Mu'awiyah bin Abu Sufyan pada 669 M. Makam ini ditemukan dan dikuatkan dengan mimpi spiritual oleh Syekh Akşemseddin, guru Sultan Mehmed II. Sultan kemudian membangun masjid dan kompleks pemakaman di sekitar makam tersebut.

2. Abu Darda’ (Uwaymir bin Zayd bin Qa’is)

  • Lokasi: Eyüp dan Karacaahmet, Istanbul
  • Status: Cenotaph
  • Keterangan: Abu Darda’ wafat pada 652 M di Damaskus, Suriah. Makam aslinya berada di Damaskus. Keberadaan makam di Istanbul adalah bentuk penghormatan simbolik.

3. Abu Syaybah al-Hudlri

  • Lokasi: Ayvansaray, Istanbul
  • Status: Diragukan; tidak ada bukti historis kuat
  • Keterangan: Dikenal sebagai bagian dari tentara awal penyerang Konstantinopel. Tidak terdapat informasi historis lain yang memverifikasi keberadaan jasad beliau di Istanbul.

4. Hamdullah al-Anshari

  • Lokasi: Ayvansaray, Istanbul (dekat Abu Syaybah)
  • Status: Tidak terdapat data historis tegas; kemungkinan cenotaph
  • Keterangan: Disebut sebagai tokoh dari Madinah yang turut serta dalam ekspedisi. Namun tidak tercatat dalam riwayat sahih secara eksplisit.

5. Ahmad al-Anshari

  • Lokasi: Ayvansaray, Istanbul
  • Status: Cenotaph
  • Keterangan: Tidak terdapat catatan sejarah yang menyebutkan beliau secara rinci sebagai Sahabat yang wafat di Istanbul.

6. Muhammad al-Anshari

  • Lokasi: Karabaş Mahallesi, Ayvansaray
  • Status: Cenotaph
  • Keterangan: Disebut sebagai pengikut Abu Ayyub al-Anshari. Tidak terdapat riwayat kuat mengenai wafatnya di Istanbul.

7. Jabir bin Abdullah al-Anshari

  • Lokasi: Masjid Atik Mustafa Paşa Camii, Ayvansaray
  • Status: Cenotaph
  • Makam asli: Jannatul Baqi’, Madinah
  • Keterangan: Jabir wafat sekitar 78 H (698 M) di Madinah. Tidak ada bukti bahwa beliau pernah ke Istanbul.

8. Abu Dzar al-Ghifari

  • Lokasi: Karabaş Mahallesi, Ayvansaray, dekat Masjid Çınarlı Çeşme
  • Status: Cenotaph
  • Makam asli: Al-Rabadzah, dekat Madinah
  • Keterangan: Wafat pada tahun 652 M. Tidak pernah disebut dalam riwayat ikut dalam ekspedisi ke Istanbul.

9. Abu Sa’id al-Khudri (Sa’ad bin Malik bin Sinan al-Khudri)

  • Lokasi: Jalan Sultan Çeşmesi, Fatih, Istanbul
  • Status: Cenotaph
  • Makam asli: Jannatul Baqi’, Madinah
  • Keterangan: Wafat pada 74 H (693 M) di Madinah. Tidak ada riwayat keberadaan beliau di wilayah Byzantium.

10. Amr bin al-Ash

  • Lokasi: Yeraltı Camii, Karaköy, Istanbul
  • Status: Cenotaph
  • Makam asli: Kairo, Mesir
  • Keterangan: Wafat tahun 43 H (664 M). Gubernur Mesir dan tokoh penting dalam penaklukan. Tidak terlibat dalam ekspedisi ke Istanbul.

11. Sufyan bin Uyaynah

  • Lokasi: Yeraltı Camii, Karaköy, Istanbul
  • Status: Cenotaph
  • Makam asli: Mekah
  • Keterangan: Bukan Sahabat Nabi, melainkan Tabi’ut Tabi’in. Wafat pada 198 H (814 M) di Mekah. Tidak pernah berada di Istanbul.

Komentar

  1. Sumber dan Referensi:

    1. Dr. Adem Apak, "İstanbul'da Sahabe Mezarları Meselesi", Uludağ Üniversitesi İlahiyat Fakültesi Dergisi
    2. Prof. Semavi Eyice, Peneliti Sejarah Bizantium dan Ottoman
    3. Mehmet Efendioğlu, "Eyüp Sultan ve İstanbul’daki Sahabe Mezarları"
    4. Ensiklopedia Islam Diyanet Vakfı (TDV)
    5. Katalog Yeraltı Camii, Istanbul Büyükşehir Belediyesi
    6. Al-Zahabi, Siyar A’lâm al-Nubalâ’ (biografi Sahabat dan tabi’in)

    BalasHapus

Posting Komentar

Popular Posts

Menginjak Umur ke 21, Apa Arti Usiamu?

Mendukung Masa Depan dengan Penyimpanan Energi: Peran Penyimpanan Energi dalam Elektrifikasi dan Dekarbonisasi Menuju Nol Emisi di Indonesia