Self Awareness dan Transformasi Keilmuan
Mendapatkan kesempatan untuk bisa menuntaskan pendidikan di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan merupakan hal mustahak penting dalam perjalanan hidup saya. Banyak alumni hebat yang telah berhasil dicetak oleh Pondok melalui aktivitas full-day selama 24 jam, mulai dari ibadah muamalah, ilmu pengetahuan hingga pengamalan di tengah kehidupan masyarakat, menjadikan saya semakin cinta terhadap Pondok Al-Amien seperti ibu kandung sendiri. Rasa cinta tersebut tumbuh dari self awareness yang terbentuk oleh pendidikan Pondok yang saya dapatkan selama tujuh tahun lamanya. Kesadaran diri itu perlahan mengalir bersama dengan visi dan misi Pondok dalam mempersiapkan individu yang unggul dan berkualitas menuju terbentuknya umat terbaik khaira ummah ukhrijat lin-nas, serta mencetak kader-kader ulama dan pemimpin umat mundzirul al-qoum yang mutafaqqih fiddien yang memiliki kemauan dan kemampuan untuk melaksanakan dakwah ila al-khair, amar ma’ruf dan nahy mungkar.
Didorong dengan tumbuhnya rasa kesadaran diri yang
kuat dan demi mewujudkan cita-cita besar para muassis serta masyaikh
Pondok lah yang menjadikan banyak dari para alumni Al-Amien telah berhasil
untuk terus berkiprah baik di dalam negeri maupun di kancah Internasional dalam
hal akademik, kepemimpinan organisasi, maupun prestasi dalam bentuk kejuaraan
atau kompetisi lainnya. Hal ini didasari oleh sistem pendidikan, manajemen
moral dan pengabdian yang terus di lakukan oleh Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan
demi menjadi agen transformasi keilmuan dimasa mendatang dapat dengan mudah
terealisasikan.
Pesantren di era dewasa ini sebagian besar sudah
menyadari betapa pentingnya berpegang pada prinsip continuity and change.
Sikap keterbukaan, elastis, dan tetap kritis, serta berjangkar kepada identitas
kebudayaan. Pesantren harus berjalan beriringan agar tetap kuat menghadapi
gelombang revolusi dunia karena pesantren kini berada pada perubahan zaman yang
tak terelakkan. Perubahan itu pasti, sunnatullah. Mengutip pernyataan Herakleitos,
“panta rei kai uden menei” (semuanya mengalir dan tidak sesuatu pun yang
tetap tinggal). Dan sama halnya dengan perubahan waktu saat ini, sangat begitu
cepat, lebih lagi seorang sosiolog inggris, Anthony Giddens menyebutnya time
space distanciation. Di tengah gelombang Internet of Things dan Big Data
yang melimpah, hal itu kadang menyeret masyarakat kepada keberagamaan instan
(tidak rumit dan yang penting mudah), malas membaca dan meneliti, sering
menyandarkan pada sumber tidak valid, dan terjerembap pada budaya hoaks. Maka,
keberadaan pesantren menjadi sangat vital dan diharapkan mengembalikan budaya
literasi agar masyarakat tetap hati-hati dalam melakukan saring sebelum sharing.
Sehingga, agar tetap survive dan tak mudah tergerus
zaman, pesantren perlu melakukan percepatan quantum learning dengan
memberikan fasilitas laboratorium komputer serta perlu menyiapkan kebutuhan SDM
talenta digital dan membuat semacam regulasi dengan sistem blocking
akses untuk mendukung pembelajaran. Hal tersebut dapat mengisi ruang-ruang
penting dalam dunia maya, dengan selalu melakukan penyebaran dan desiminasi
hasil pemikiran serta kajian dari para santri dan guru-guru terlebih
menyuguhkan informasi yang sangat dibutuhkan masyarakat secara obyektif dan
faktual.
Transformasi keilmuan seperti inilah yang telah dan
sedang dilakukan oleh Pondok Pesantren Al-Amien saat ini, yang secara signifikan
menjadikan para santri dan alumninya memiliki bekal dan dasar yang kuat untuk
bersaing di dunia luar dalam kancah Internasional. Atas keberkahan Pondok serta
do’a dan didikan Kyai, yang membuat saya bisa mendapatkan peluang untuk
melanjutkan studi di Istanbul University pada bidang theology atau islamic
studies, melalui program YÖS ( Yabancı Uyruklu Öğrenci Sınavı ) yaitu ujian
yang harus diikuti oleh mahasiswa asing agar dapat diterima dan belajar di
universitas negeri di Turki.
Serupa dengan sejarah perjalanan transformasi keilmuan
di Turki, negara ini telah melalui masa perkembangan panjang hingga mencapai
puncak keilmuannya pada masa Kesultanan Utsmaniyah berdiri, sampai masa
pascakolonial Republik modern. Transformasi keilmuan semasa Kesultanan
Utsmaniyah mencakup periode yang cukup panjang, dan banyak faktor yang
memengaruhinya. Langkah dalam pengembangan keilmuan itu dimulai pada awal
periode kesultanan pada abad ke-14 hingga abad ke-16, saat masa awal berdirinya
kesultanan, keilmuan banyak dipengaruhi oleh warisan kebudayaan Islam.
Kekhalifahan Utsmaniyah yang berkembang memperoleh pusat-pusat keilmuan di
kota-kota seperti Bursa dan Edirne. Pusat-pusat keilmuan ini terutama berkisar
pada ilmu agama, filsafat, dan sastra Arab-Islam. Tiba di masa pertumbuhan dan puncak
Kesultanan pada abad ke-16 sampai ke-17, pada puncak kejayaannya, Kesultanan
Utsmaniyah menjadi pusat peradaban dan kebudayaan yang maju. Ini tercermin
dalam pembangunan masjid-masjid megah, istana-istana, dan
perpustakaan-perpustakaan di kota-kota seperti Istanbul (sebelumnya
Konstantinopel). Keilmuan Islam terus mendominasi, dan Utsmaniyah juga
menyumbang pada pengembangan ilmu pengetahuan, terutama di bidang teknologi dan
kedokteran.
Salah satu dari sekian banyaknya bukti bahwa di masa
itu keilmuan telah mencapai puncaknya adalah muncul tokoh-tokoh muslim hebat yang
dianggap mencapai puncak keilmuan dalam berbagai bidang, terutama dalam ilmu
agama, sastra, dan filsafat. Diantaranya adalah Taqiyuddin Muhammad bin Ma'ruf
Asy-Syami As-Sa'di (1526-1585) adalah seorang polimatikawan Utsmaniyah yang
aktif di Kairo dan Istanbul. Beliau adalah penulis lebih dari sembilan puluh
buku tentang berbagai bidang, termasuk astronomi, jam, teknik, matematika,
mekanika, optika dan filsafat alam. Karya utama yang dihasilkan dari penelitiannya
di observatorium ketika di istanbul, ibu kota Ustmaniyah kala itu berjudul
"Pohon pengetahuan tertinggi (di akhir zaman atau dunia) di Kerajaan Bola
Berputar : Tabel astronomi Raja segala Raja (Murad III)" atau Sidratul
muntahal afkar fi malkūtul falakul dawār– az-zij asy-Syāhinsyāhi.
Masa masa kejayaan ilmu pengetahuan di era tersebut,
relevan dengan kesadaran diri dan himmah yang dimiliki oleh setiap
cendekiawannya, tidak hanya sekedar fasilitas yang mumpuni akan tetapi juga
dengan dorongan keinginan dari masing-masing individu, begitu pula dengan Pondok
Pesantren Al-Amien dan para santrinya, Pondok yang telah memiliki fasilitas dan
sistem pendidikan kontemporer serta terus melakukan innovative learning, harus
dibarengi oleh para santrinya dengan memiliki kesadaran diri atau self
awareness yang tinggi.
Banyak pakar dan praktisi psikologi di dunia sedang
menggaungkan pentingnya self awareness ini, secara bahasa kesadaran diri
terdefinisi mencakup dua hal, pertama tentang pemahaman akan hal-hal internal
dalam dirinya, dan kedua tentang penerimaan dirinya secara utuh apa adanya. Ajaran
islam yang paling erat dengan kesadaran diri adalah tentang bersyukur. Dengan
bersyukur kita akan selalu membuka mata kita. Tidak hanya membuka mata pada
diri sendiri, namun juga bahkan membuka mata pada banyak hal diluar diri kita. Dengan
mempraktikkan karakter sebagai seorang santri atau alumni yang pandai
bersyukur, terlebih mengingat kembali tausiyah yang biasa ditekankan
oleh pengasuh, KH. Ahmad Fauzi Tidjani dalam setiap ceramahnya di depan para
santri, untuk selalu bersyukur dalam segala hal, kita akan belajar bahwa ada
banyak hal di dalam diri ini yang patut kita puji atas kebesaran yang dimiliki
oleh Allah SWT, rahmat berupa kesehatan, kemampuan berpikir, emosional dan lain
sebagainya. Dalam Surat An Nisa’ ayat 146, Allah berfirman bahwa orang yang
bertaubat dan memiliki kesadaran diri untuk memperbaiki dirinya serta ikhlas
pada agama mereka, maka mereka adalah orang beriman dengan balasan pahala yang
teramat sangat besar. Sehingga dengan landasan di atas, cara terbaik untuk
meningkatkan self awareness dalam Psikologi Islam adalah dengan
bertaubat kepada Allah. Menyadari bahwa kita manusia adalah makhluk yang
berlumur dosa dan tak bisa luput dari kesalahan. Maka dari itu, introspeksi
diri dan memiliki niat serta kesadaran penuh untuk berubah kearah yang lebih
baik adalah hal yang penting untuk dilakukan.
Akhirnya dapat disimpulkan bahwa demi menyelaraskan apa
yang telah diupayakan pondok untuk terus menjadi agen transformasi keilmuan di
masa mendatang, sebagai seorang santri atau sumber daya manusia yang dimiliki
oleh Pondok saat ini, perlu adanya sikap kesadaran diri yang tinggi di setiap individu
dan pentingnya mendukung cita-cita pondok serta berusaha untuk membuat lompatan
jauh dan terus berjuang guna mengharumkan nama Pondok Pesantren Al-Amien dimata
dunia.

Komentar
Posting Komentar