Mendukung Masa Depan dengan Penyimpanan Energi: Peran Penyimpanan Energi dalam Elektrifikasi dan Dekarbonisasi Menuju Nol Emisi di Indonesia

 Jakarta, (23/02/2025) – Direktorat Kajian Strategis PPI Dunia sukses menyelenggarakan diskusi daring bertajuk Mendukung Masa Depan dengan Penyimpanan Energi: Peran Penyimpanan Energi dalam Elektrifikasi dan Dekarbonisasi Menuju Nol Emisi di Indonesia. Acara ini menghadirkan dua pembicara ahli di bidang energi dan baterai, yaitu Romel Hidayat, Ph.D. (Senior Engineer, PT PLN (Persero), Indonesia) dan Dr. Egy Adhitama (Research & Product Management, PowerCo, Jerman), serta dimoderatori oleh Widi Kurniawati, M.Sc. (Ph.D. Fellow in Battery Research, University of Bordeaux and Deakin University). Acara ini diikuti oleh 93 peserta dari berbagai latar belakang, seperti mahasiswa, akademisi, peneliti, insinyur, pegawai negeri, dan profesional lainnya.

Dalam pembukaan acara, Koordinator PPI Dunia, Adhie Marhadi, menekankan bahwa penyimpanan energi memiliki peran strategis dalam mendukung transisi energi terbarukan dan dekarbonisasi di Indonesia. Topik ini dipilih untuk memberikan wawasan baru mengenai teknologi penyimpanan energi yang sedang berkembang di tingkat global dan relevansinya bagi Indonesia.

Sorotan Diskusi

1. Pentingnya Daur Ulang Baterai dan Industri Baterai Berbasis Nikel

Dr. Egy Adhitama membahas perkembangan industri baterai di Eropa yang saat ini masih dalam tahap pengembangan sistem daur ulang baterai (Battery Recycling). Salah satu regulasi yang sedang dikembangkan adalah Battery Pass, di mana setiap baterai akan memiliki ID unik untuk memudahkan proses pelacakan dan daur ulang material penyusunnya.

Dengan proses pemisahan yang lebih efisien, material baterai dapat digunakan kembali untuk memproduksi baterai baru.

Selain itu, Dr. Egy juga menyoroti posisi Indonesia sebagai salah satu penghasil nikel terbesar di dunia. Nikel merupakan komponen penting dalam baterai kendaraan listrik, terutama di Eropa. Namun, industri ini menghadapi tantangan dalam rantai pasokan, mulai dari proses penambangan, pemurnian, hingga produksi material baterai yang masih didominasi oleh China. Oleh karena itu, perlu dipertimbangkan apakah Indonesia sebaiknya tetap fokus pada nikel atau mulai mengeksplorasi material alternatif untuk diversifikasi industri baterai.

2. Ketahanan Energi dan Sistem Manajemen Baterai

Romel Hidayat, Ph.D., menjelaskan bahwa baterai memiliki peran krusial dalam sistem energi terbarukan (renewable grid). Terdapat tiga komponen utama dalam sistem manajemen baterai, yaitu:

• Energy Management System (EMS) – Mengatur distribusi energi secara efisien.

• Power Conversion System (PCS) – Mengubah dan menyesuaikan daya listrik sesuai kebutuhan.

• Battery Management System (BMS) – Mengoptimalkan kinerja dan keamanan baterai.

3. Jenis dan Pengembangan Teknologi Baterai

Diskusi ini juga membahas berbagai jenis teknologi baterai yang saat ini dikembangkan, termasuk:

• Nickel-Cadmium (NiCd) dan Nickel-Metal Hydride (NiMH) yang telah lama digunakan tetapi mulai tergantikan oleh Lithium-Ion (Li-Ion) karena kapasitasnya yang lebih tinggi.

• Solid-state battery dan lithium-metal battery yang menawarkan kapasitas lebih besar tetapi masih memiliki tantangan dalam aspek keamanan.

4. Aplikasi dalam Energi Terbarukan dan Kendaraan Listrik (EV)

Penyimpanan energi menjadi bagian penting dalam pengembangan energi terbarukan dan kendaraan listrik (electric vehicle). Beberapa poin yang disoroti adalah:

• Panel surya berbasis silikon (Silicon-based PV) masih menjadi teknologi dominan dalam pemanfaatan energi matahari.

• Baterai Lithium-Ion menjadi standar utama dalam kendaraan listrik dengan inovasi yang terus berkembang, seperti pengisian daya cepat (fast charging) dan peningkatan daya tahan baterai.

5. Tantangan dan Inovasi Masa Depan

Beberapa inovasi yang sedang dikembangkan dalam industri penyimpanan energi meliputi:

• Pengembangan baterai berbasis silikon untuk meningkatkan kapasitas penyimpanan.

• Potensi penggunaan Lithium Iron Phosphate (LFP) dibandingkan dengan baterai berbasis nikel, terutama dalam aspek biaya dan efisiensi.

• Keberlanjutan industri baterai, termasuk upaya untuk menghindari penggunaan bahan baku dari sumber yang bermasalah secara sosial dan lingkungan.

Kesimpulan

Diskusi ini menegaskan bahwa teknologi penyimpanan energi merupakan faktor kunci dalam mendukung transisi energi yang lebih hijau dan berkelanjutan. Pengelolaan sumber daya baterai, baik melalui inovasi teknologi maupun regulasi yang lebih baik, akan menjadi faktor utama dalam mencapai target nol emisi di Indonesia.

Acara ini diharapkan dapat membuka wawasan lebih luas bagi para peserta mengenai pentingnya penyimpanan energi dalam sistem energi masa depan serta memberikan gambaran mengenai tantangan dan peluang yang ada dalam industri ini.

By: Zuhal Azzamul A'la 

Komentar