Rumah Untuk Kembali
Dalam situasi apapun, sejauh manapun seseorang pergi, ada waktunya untuk kembali, dan yang pasti "rumah" adalah tujuan utamanya. Masing-masing dari kita bebas mengartikan apa makna dari rumah itu sendiri, jika dilihat dari kamus besar bahasa indonesia atau KBBI arti dari rumah adalah bangunan untuk tempat tinggal, atau bangunan pada umumnya (seperti gedung), dari sisi yang lain pula, secara psikologis misalnya rumah merupakan sebuah tempat untuk tinggal serta melakukan hal-hal dari segi fisik dengan tentram, damai, nyaman dan menyenangkan bagi penghuninya.
kita dalam menjalankan hidup pastinya melewati berbagai macam alur cerita, diawali dengan siapa dan bagaimana serta kapan kita dilahirkan, berlanjut seperti apa perjalanan kita dalam berkembang dan menuntut ilmu, hingga mengapa kita masih bisa bertahan sampai detik ini, tidak mudah untuk dilupakan apalagi dibuang dengan percuma semua pikiran dan ingatan tentang itu, mungkin hanya mereka yang tidak peduli lagi apa gunanya hidup yang sanggup melupakan kenangan itu semua, tapi seburuk apapun keadaan yang dialaminya hingga detik ini, tetap sulit dan sukar untuk melupakannya, karena satu detik saja waktu berjalan, seseorang sudah membuat cerita baru dan mememorikan langkahnya yang lalu, itulah sebabnya mengapa mengingat sesuatu yang menjadikanmu seperti saat ini adalah sangat penting, agar tidak lupa untuk bersyukur bagi mereka yang sudah sampai pada titik tertingginya, dan agar tidak lupa untuk bermuhasabah dan selalu introspeksi diri bagi mereka yang masih dalam titik terendah.
Saya sebagai seorang santri, menganggap rumah bukanlah hanya sebuah tempat untuk kembali, rumah bukanlah hanya tempat yang pantas untuk ditinggali, akan tetapi rumah adalah sesuatu yang menjadikan kita lebih baik, sesuatu yang memberikan kita kasih sayang, sesuatu yang membentuk kita menjadi pribadi yang kuat, sesuatu yang mengajarkan kita apa arti kekeluargaan, rumah bukan hanya sekedar bentuk fisiknya, tetapi orang-orang yang memberikan kita semangat, memberikan kita harapan, dan memberikan kita kasih sayang, adalah rumah terbaik untuk kembali.
Orang tua, guru dikelas, dan sang kyai, tiga roda kehidupan penentu arah masa depan terbaik, dan penentu arah jalan pulang terjitu yang pernah ada. Pertama adalah orang tua, diantara kita siapa yang tidak mencintai orang tuanya?...minim bahkan mustahil ada seseorang yang tidak mencintai orang tuanya, mereka berdua adalah kunci dasar bagi seorang anak dimasa depan, lebih-lebih banyak hadits rosulullah yang mewajibkan seorang anak untuk berbakti terhadap orang tua, nah karenanya, orang tua adalah rumah pertama untuk kembali bagi seorang anak, sejauh apapun kita dari orang tua, setidaknya kabar dan saling memberikan informasi masih saling terhubung dan aktif diantara orang tua dan kita. Kedua adalah guru dikelas, kita semua pasti lumrah dengan perkataan sahabat Ali R.A yang berbunyi "aku adalah budak(hamba sahaya) bagi orang yang mengajariku walau hanya satu huruf". dari perkataan sahabat tersebut sudah dapat dipahami bahwa sebegitu mulianya seorang guru dihadapan seorang murid, jadi sebagai seorang murid sudah seharusnya untuk menghormati dan menjadikan seorang guru sebagai sandaran kita untuk menuntut ilmu dan kembali mengingat bahwasanya kita tidak memiliki pengetahuan yang luas sebelum seorang guru hadir di kehidupan kita. Ketiga, sang kyai, sebutan untuk seorang guru sekaligus pembimbing dalam ilmu agama, inilah yang membedakan antara seorang murid biasa dengan seorang santri, seorang santri percaya bahwa kyai adalah jalan untuk mengabdi dan membimbing ia menuju sesuatu yang di ridhoi oleh Allah SWT, sang kyai dengan seorang santri memiliki chemistry yang kuat, karena hubungannya didasari dengan ketaqwaan dan ketaatan terhadap syariat agama, ada satu hal yang membuat saya selalu cinta terhadap seorang kyai, yaitu keberkahan yang selalu menyelimuti beliau-beliau para kyai yang sehingga menjadikan akhlak perilaku serta nasihatnya sebagai semangat motivasi dan bisa menginspirasi tanpa syarat apapun, serta menambah cinta kasih sayang kepada semuanya.
Ada beberapa kutipan pesan kyaiku yang menjadikanku tidak pernah lupa kepada almamater tercinta, tempat kembali terbaik, dan menjadi rumah kedua dalam kehidupanku.
1. "Kami tidak akan bosan menyampaikan pesan, bahwa prinsip kami santri Al-Amien seumur hidup, tetap menjadi santri Al-Amien, bahkan dalam kitab ta'lim muta'allim ikatan batin antara kyai dan santri berlanjut sampai tujuh generasi" (K.H. Tidjani Djauhari)
2. "Jangan jadi anak hilang, dan jangan menghilangkan diri sendiri, kaitkanlah hati kalian dengan pondok dan almamater kalian, insyaallah kalian akan menjadi orang-orang mulia" (K.H. Idris Djauhari)
3. "Usahakan kamu seyakin yakinnya bahwasanya program pondok ini adalah program yang baik, yang akan mengantarkan kamu nanti hidup bahagia di dunia dan akhirat" (K.H. Maktum Djauhari)
Demikian, Selamat memperingati kesyukuran 70 tahun Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan,
Zuhal Azzam, Istanbul, 11 November 2022
Komentar
Posting Komentar