Salju Pertama.
Memasuki bulan februari, pertanda sedang melewati musim dingin yang sebenarnya diawali pada bulan desember lalu, akan tetapi, untuk wilayah istanbul dan sekitarnya, baru dimulai semenjak awal bulan ini (februari). Namanya juga musim dingin, kalo bukan hembusan anginnya yang kencang ya suhunya yang seperti lemari es, jika bukan hujan yang turun ya salju yang datang.
Bagi kita yang warga negara tropis, sudah pasti sih untuk merasakan dan melihat salju itu adalah sesuatu yang menarik dan diinginkan bagi sebagian orang, salah satu sebabnya juga karena indonesia yang letak geografis negaranya berada di garis katulistiwa dunia, yang hanya memiliki dua musim di daerahnya.
Nah beginilah yang terjadi dengan saya pribadi, melihat salju turun pertama kali itu rasanya waw banget, dan gak bosan untuk menggenggam dan bermain dengan bola saljunya, tetapi sebenarnya, hawa dingin dan hembusan anginnya itu membuat kulit terasa mati karena saking dinginnya, kepala serasa pusing karena suhu dinginnya, bibir pecah-pecah karena kering meskipun cuaca dingin, dibalik itu semua, ada bahagia yang menutupi, ya mungkin karena menjadi momen pertama untuk kita yang belum pernah melihat fenomena ini sebelumnya.
Ada sepotong puisi tentang musim dingin, yang saya dapatkan dari beberapa artikel di internet, yang menurut saya sangat cocok untuk menggambarkan situasi dan keadaan di musim dingin ini,
Sunyi kota sesunyi embun pada tangkai bunga-bunga pagar dekat gereja tua itu. Kenapa embun itu hinggap dan bertahan pada setangkai bunga kecil Winterjasmin?
Merpati beterbangan melampaui menara tinggi kota itu. Lalu terbang rendah hingga berkumpulan di samping gereja tua. Merpati-merpati itu tidak pernah bertengger pada tangkai Winterjasmin. Bunga kecil yang sejuk sunyi bersama embun jernih dibiarkan tersenyum.
Kuning segar menawan Winterjasmin itu
Memesona mata yang terlalu lama melihat dahan-dahan ranggas. Serupa terompet kuning kecil bunga itu menginspirasi. Terompet sunyi menunggu detak jatuh sang embun sejuk itu.
Kuning, putih dan jernih paduan tak terduga di pesisir jalan kecil kota tua itu. Bunga pertama yang mekar di musim dingin. Mekar meski tanpa sinar mentari pagi mengunjunginya.
Bunga kecil Winterjasmin di pesisir duka yang berani tersenyum tanpa masker pelindung virus. Tersenyum ramah, meski tanpa kata-kata. Ia hanya menahan setitik embun agar bersamanya menanti perginya Senja dan Salju.
Oh bunga kecil, penggoda imajinasi hari ini, Oh embun kecil, penyejuk hati waktu kini, Tak mungkin sekedar ada di sana, Tak biasa yang kecil itu berbicara, Tak ada kebetulan paduan akrab Winterjasmin dan embun jernih.
Terlihat karena punya mata, Tersimpan karena punya kamera, Terbaca karena ada tulisan.
Wahai bunga kecil mengapa kau menulis dengan tinta dirimu. Wahai embun kecil, mengapa kau bertengger di sana? Pernahkah kalian berdiskusi tentang keindahan dan kesejukan zaman?
Memang benar, seindah itulah sebuah kota yang diselimuti oleh salju, memanjakan mata, menenangkan hati, namun jangan pernah lupa bahwa hawa dingin selalu membersamainya.
Komentar
Posting Komentar