Merdeka?
Sayap Garuda yang patah, Pelukan Ibu Pertiwi, Macan Asia Bangkit Dari Kubur,

Sayap Garuda yang Patah
Terbebaskan dari ribuan belenggu ratusan waktu, dihempas dicambuk diperbudak orang biadab tak bermartabat, lahir jutaan pribumi yang bangkit untuk berjihad, merampas wibawa mengambil kembali kekuasaan, membuktikan bahwa tanah air mahal harganya, semahal jiwa dan raga, seharga nyawa taruhannya.
Hari itu, jeritan para Romusha sirna, antek-antek Londo hanya tersisa jejaknya, kerja Rodi tertimbun tanah, Nippon pun terbenam tak menunjukkan terbitnya, pribumi memperlihatkan senyum dan tawanya, syukur dimana-mana, berdaulat lah suatu negara.
Berkala besi dilahap karat, bermasa kayu menjadi rapuh, beda zaman beda tekanan, lain waktu lain pula penanganannya, dulu berdaulat, kini melemah, Garuda telah terbang mencapai kemampuannya, dijatuhkan oleh sayap sendiri, dua sayap yang tak satu pemahaman, yang tak selaras keinginan, menghancurkan dan meleburkan sendiri tubuh kuatnya, lupa akan wibawa dan kepribadian nya, Marwah habis di telan nyawa sendiri.
Pelukan Ibu Pertiwi
Apa itu Pertiwi?
Siapa yang disebut ibu Pertiwi?
Dari mana asal muasal kata Pertiwi?
Dewi bumi dan lingkungan hidup zaman Hindu Budha di Nusantara
Personifikasi nasional negara Indonesia adalah jawabannya
Saat itu, Dewi Prthvi dalam bahasa sansekerta
Telah lama memberikan harta pusaka dan hasil bumi melimpah kepada penghuninya
Merangkul lembut siapa saja yang menghampiri
Menghasilkan gunung emas mewah
Menumbuhkan hutan hijau tropis
Mengalirkan sungai dan membentuk seribu pulau sebagai nilai eksotis
Tapi entah mengapa, harus diberikan kepada mereka yang tak tau cara untuk mengelola nya
Tak sadar rasa memiliki
Akhirnya menyesal datang menghampiri
Hilang emas, hilang pohon-pohon rimbun, hilang kekayaan alamnya
Dikit demi sedikit akan sadar bahwa semua hanya tinggal sisa
Macan Asia Bangkit Dari Kubur
Masalah kompleks, krisis pangan terjadi, kasus korupsi menggurita di penjuru nusantara,
Sesungguhnya, masa Sriwijaya, Majapahit hingga kepemimpinan Soekarno, Macan Asia seakan hanya mitos globalisasi yang dibuktikan dengan dalil-dalil, terbukti menjadi yang terkuat dan paling stabil atas ekonomi,
Tapi kini, bukan masanya sekedar untuk mengingat, mengenang, dan menghalu capaian yang dahulu,
Semua sadar, para pemimpin menutup rapat jarak antara rakyat dengan perwakilannya, rakyat merasa tak berkutik melawan pemerintahan negaranya sendiri, pejabat yang tak habis-habisnya tergiur dengan gula, manis menusuk mati, serakah mengelus kemiskinan, rakyat menghujat pertanda memanggil pencabut nyawa, pemegang tahta adalah yang terkaya, lupa pada rakyat jelata
Berbenah, penduduk berkualitas, saling percaya, hadapi bersama, selagi bisa, selagi nyawa masih dikandung badan.
Dengan itu, satu dua proses sudah dilewati, bangkit lah Macan Asia ku.
Komentar
Posting Komentar